Penelitian Terbaru Ungkap Bahwa Wanita Riskan Depresi 3 Kalilipat Dibanding Pria

Penelitian Terbaru Ungkap Bahwa Wanita Riskan Depresi 3 Kalilipat Dibanding Pria

Berita Terbaru – Permasalahan depresi kelihatannya sudahlah cukup umum berlangsung di masyarakat sekarang. Hal tersebut dibuktikan oleh beberapa studi ilmiah. Ahli Pengetahuan Sosial, Budaya serta Komunikasi dari Universitas Indonesia, Dr. Devie Rahmawati,l, S.Sos., M.Hum., CPR menerangkan, sejak mulai 1986 sampai sekarang, data tunjukkan jika manusia kekinian lima kali lebih depresi dibanding manusia di masa sebelumnya, terutamanya wanita.

Penelitian Terbaru Ungkap Bahwa Wanita Riskan Depresi 3 Kalilipat Dibanding Pria

“Ini jadi masalah dunia,” kata Devie dalam talkshow kampanye #TakTerhentikan oleh Sunsilk di lokasi Kemang, Jakarta Selatan, Senin (7/10/2019). Barisan yang paling rawan ialah remaja. Karena, remaja dipandang belum mempunyai banyak pengalaman hingga mereka tidak punyai banyak rujukan. Hal tersebut membuat barisan umur itu gampang terperosok mengarah yang jelek.

Serta peluang terburuknya, bila orang merasakan betul-betul sendiri waktu alami depresi, mereka dapat alami stres serta berbuntut pada akhiri nyawa. Nyatanya, wanita 3x lebih rawan depresi dibanding lelaki. Paling tidak, ada tiga unsur yang melatarbelakangi bukti itu. Tiga unsur itu salah satunya:

  1. Unsur biologis Pubertas sekarang makin awal. Bukan hal baru bila siswi yang baru masuk Sekolah Basic telah alami menstruasi. Dinamika hormonal ini membuat wanita dengan internal tambah lebih depresi dibanding lelaki.

Devie menerangkan, saat hormon sedang naik-turun, satu orang membutuhkan orang lain untuk mengikuti supaya mereka tidak berjalan tanpa ada arah. “Oleh karenanya peranan guru-guru serta orang-tua penting. Mereka seperti balon yang punyai daya, tetapi terlepas kemana saja tanpa ada arah. Karena itu (balon itu) butuh ditarik supaya jalannya terukur,” kata Devie.

  1. Unsur psikologis Budaya digital membuat beberapa orang seakan jadi “zombie”. Karena mereka ada tanpa ada tahu arah hidup yang sebetulnya. “Sebab hidup jadi tergantung pada legalitas sosial. Tiap hari terobsesi untuk dapat likes sebanyaknya. Jadi tidak konsentrasi mendayakan diri,” katanya.

Selain itu, manusia memang adalah makhluk egois serta tetap ingin lebih baik dari orang lain. Sayangnya, budaya digital membuat kita malah banyak lihat orang lain yang seakan lebih hebat dibanding kita.

“Yang berlibur terus, ganti-ganti handphone, ganti-ganti pacar, dandanannya bagus.” “Ia ingin bertambah baik tetapi nyatanya lihat seputar kok bagus semua. Itu membuat beberapa anak jadi depresi. Walau sebenarnya belum pasti kerennya benar,” sebut Kepala PR Program Studi Vokasi UI itu.

  1. Unsur sosiologis Walau dikelilingi oleh tehnologi yang serba hebat, tetapi nilai-nilai yang digenggam oleh remaja sekarang masih adalah nilai-nilai konvensional. Beberapa orang lebih condong konsentrasi pada tampilan dianya. Kedatangan sosial media membuat mereka makin seringkali memperbandingkan diri dengan orang lain. Bila hal tersebut berlangsung, ada banyak peluang yang dapat berlangsung.

Pertama, mereka akan fight alias berusaha menjadi yang paling baik. Ke-2, mereka akan menipu publik menjadi yang paling baik, contohnya memakai tehnologi yang membuat mereka terlihat prima dalam photo. Paling akhir, stres makin kronis. “Sebab ia merasakan tidak ada yang membantu. Meskipun (posting) ramai dengan likes, punyai banyak followers, tetapi ia sebetulnya sendirian.

Sebab saat ia depresi memangnya followers dapat dibawa bercakap? Followers akan repot dengan dirinya,” sebut Devie. Ini dapat dihindari dengan beberapa hal. Contohnya, dengan membuat komune dengan pekerjaan yang positif. Diluar itu, kita harus juga dapat jadi pribadi yang dapat dengarkan saat ada satu orang yang ingin menumpahkan isi kepalanya pada kita.

Written by

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *